lagi lagi, lagi mellow nich!
Tak bisa aku pungkiri, aku tengah mencurahkan perasaan sayangku terhadap seseorang yang kini berada jauh di sana. Meskipun mungkin hatinya sudah tertuju pada orang lain. Tapi aku tak peduli, bagiku bisa mengenalnya dan pernah melewati beberapa hari bersamanya sudah membahagiakanku. Dia masih mengingatku dan menyimpan nomorku di memori ponselnya lebih dari cukup untukku. Walau mustahil, dering panggilan atau pesan tak akan pernah ada darinya untukku lagi. Ya, aku menyayanginya. Aku sayang padanya.
Perjumpaan singkat itu tak masalah untukku. Paling tidak dia pernah ada dan mengukir kenangan dalam lembar cerita kehidupanku. Untuk dikatakan ‘sekedar mampir’ juga bukan suatu hal memilukan untukku. Ini sudah jalanNya, sebuah alur yang tak bisa aku hindari. Sebuah naskah yang harus aku lakoni. Dia ada sebuah peran yang pernah singgah dalam perjalanan cintaku. Hanya sejenak, tapi berkesan bagiku.
Kebersamaan kami memang hanya dalam hitungan umur jagung, namun tiap detik yang kuhabiskan saat dekat dengannya bukan menjadi penyesalan bagiku. Tawanya, amarahnya, egonya dan segala tingkah lakunya yang membuatku tersenyum maupun gigit jari, semuanya menjadi sebuah keindahan yang membuatku menjadi semakin rindu. Mencintai tidak harus memiliki. Pepatah bijak yang terdengar klise. Tapi, menurutku kalimat itu seperti sebuah pembelajaran berharga. Bukankah Tuhan selalu memberi hikmah di balik semua peristiwa yang Ia ujikan kepada kita?
Aku yakin, perpisahan hanyalah sebuah jeda waktu yang bersifat sementara. Terima kasihku kepada Tuhan, lewat seorang teman yang telah mempertemukan aku dengannya. Seseorang berinisial “H”, semoga takdirNya memberi kita umur panjang untuk dapat berjumpa kembali. Jika bukan di alam fana ini, tak mengapa di suatu tempat yang lain.
Seandainya dia tahu, ah… sudahlah.
(H 3121 KA : 281208)
December 29th, 2008 at 8:34 pm
dahulu ada dua orang sahabat
yang satu adalah seorang pemain harpa
satunya lagi seorang penyair
setiap hari mereka bertemu di rumah si pemusik disebuah ketinggian bukit
si pemusik memetik harpanya dan dari ketinggian bukit itu mengalun merdu suara harpa hingga terdengar di seluruh penjuru desa
sang penyair duduk dihadapannya menikmati dengan seluruh perasaan
diliputi oleh keindahan dan perasaan yang membuncah sang penyairpun mendaraskan syair-syair indahnya
Begitulah yang mereka lakukan setiap hari
hingga suatu saat sang penyair tidak datang
si pemusik heran dimanakah sahabatnya berada
tanpa sahabatnya tiada lagi keinginannya untuk memetik harpa
hari itu dentingan harpa tidak terdengar di desa
esok harinya si pemusik menemukan kembali dirinya hanya sendiri tanpa sahabatnya
ia turun kedesa bertanya kepada orang-orang dimanakah gerangan sahabatnya
lalu diketahui oleh bahwa sang penyair sahabatnya telah meninggal karena sakit
dengan hati hancur ia kembali kerumahnya di ketinggian bukit
tiada lagi kini keinginannya untuk memetik harpa
segala kemampuannya seakan sirna bersama perginya sang sahabat
dan sejak saat itu tak pernah ada lagi suara indah dentingan harpa di seluruh penjuru desa para penduduk desa kehilangan musik yang dulu pernah membuat indah hidup mereka
*********************
Terimakasih untuk mengenalmu. Semoga didesaku suara harpa yang indah itu suatu saat akan kembali terdengar.